Saat ini, kebutuhan akan data center semakin meningkat seiring dengan pesatnya transformasi digital, adopsi teknologi cloud, dan artificial intelligence yang membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan data yang besar.
Di Indonesia sendiri, menurut data dari Databoks, ada sekitar 141 data center aktif yang beroperasi, dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah.
Sayangnya, tidak semua lokasi cocok dijadikan sebagai pusat data. Data center harus berada di area yang mampu mendukung kebutuhan operasionalnya, seperti pasokan listrik berskala besar, dan infrsatruktur lain yang tidak semua wilayah mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
Di dalam artikel ini, kita akan membahas strategi yang bisa digunakan oleh bisnis untuk menentukan lokasi data center yang paling ideal.
Contents
Apa Itu Data Center?
Tempat penyimpanan data adalah fasilitas fisik yang digunakan oleh bisnis maupun organisasi sebagai “rumah” bagi data dan aplikasi penting mereka. Di dalamnya, tersimpan berbagai sistem dan perangkat teknologi yang menjadi tulang punggung operasional digital.
Lebih lengkapnya, data center adalah ruang khusus yang dirancang untuk menampung infrastruktur teknologi, mulai dari server, jaringan, hingga sistem pendukung lainnya, yang berfungsi untuk membangun, menjalankan, dan menyalurkan aplikasi serta layanan digital.
Tidak hanya berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan pengelolaan data, data center juga memberikan berbagai manfaat strategis bagi bisnis, antara lain:
- Skalabilitas yang lebih baik
- Keamanan data yang lebih terjamin
- Efisiensi operasional yang jauh lebih tinggi
- Peningkatan performa aplikasi
- Manajemen terpusat yang memudahkan pemantauan, pemeliharaan, dan pengendalian seluruh sistem teknologi dalam satu ekosistem.
Perbedaan Data Center Tradisional dan Data Center Modern
Data center bukanlah fasilitas yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Konsep pusat data sudah dikenal di era 1940-an, tepatnya sjak tahun 1945 di Universitas Pennsylvania.
Namun, data center tradisional pada umumnya belum dirancang untuk mengelola konsumsi daya yang sangat besar, seperti yang dibutuhkan oleh klaster GPU atau sistem pendingin khusus untuk perangkat keras berdensitas tinggi.
Keterbatasan ini membuat data center tradisional kurang fleksibel dalam menghadapi tuntutan teknologi modern seperti cloud computing dan artificial intelligence.
Berikut beberapa perbedaan utama antara data center tradisional dan data center modern:
Kecepatan penyebaran (deployment speed)
Data center tradisional memerlukan waktu pembangunan yang relatif lama, mulai dari beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Sebaliknya, data center modern dirancang dengan pendekatan modular dan terstandarisasi, sehingga dapat dibangun dan dioperasikan hanya dalam hitungan beberapa minggu saja.
Biaya
Data center tradisional membutuhkan pengeluaran modal awal yang sangat besar untuk pembangunan infrastruktur fisik. Sementara itu, data center modern cenderung memiliki biaya awal yang lebih rendah, dengan fokus pada biaya operasional yang bersifat fleksibel melalui skema berlangganan atau pay-as-you-use
Skalabilitas
Kapasitas data center tradisional biasanya sudah ditentukan sejak awal, sehingga sulit untuk ditingkatkan atau dikurangi tanpa investasi tambahan yang besar. Sebaliknya, data center modern menawarkan skalabilitas yang tinggi, memungkinkan bisnis menambah atau mengurangi kapasitas secara modular sesuai kebutuhan operasional.
Apa saja kriteria pemilihan lokasi untuk pusat data?
Riset memperkirakan bahwa kapasitas data center global akan meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 2030. Kondisi tersebut mendorong bisnis untuk segera menemukan lokasi yang paling optimal untuk membangun data center modern baru sehingga bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
Lalu, faktor apa saja yang perlu diperhatikan oleh bisnis dalam memilih lokasi data center? Berikut kriteria utama yang harus dipertimbangkan dalam proses pemilihan lokasi.
Memiliki Daya Besar
Kriteria pertama dan paling krusial dalam perencanaan lokasi data center adalah ketersediaan pasokan listrik dalam skala besar dan stabil. Hal ini disebabkan oleh tingginya kebutuhan konsumsi daya untuk menjalankan server, klaster GPU, sistem pendingin, serta infrastruktur pendukung lainnya yang beroperasi tanpa henti selama 24 jam.
Sebagai gambaran, Amazon Web Services (AWS) dalam mengoperasikan data centernya membutuhkan daya hingga sekitar 100 megawatt, jumlah yang setara dengan konsumsi listrik 400,000 kendaraan listrik dalam satu tahun.
Angka ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan energi yang harus dipenuhi agar data center dapat beroperasi secara optimal.
Oleh karena itu, bisnis yang berencana membangun data center modern perlu memastikan bahwa wilayah yang dipilih mampu menyediakan pasokan listrik minimal 100 megawatt secara berkelanjutan, termasuk cadangan daya untuk mengantisipasi lonjakan beban atau gangguan operasional.
Selain kapasitas, sumber energi yang digunakan juga menjadi pertimbangan penting, apakah berasal dari gas alam, batu bara, atau alternatif yang lebih ramah lingkungan seperti tenaga angin dan energi surya.
Akses ke Kabel Serat Optik (Fiber Optics Cable)
Infrastruktur data center idealnya berada di lokasi yang dekat dengan jaringan kabel serat optik. Kedekatan ini menjadi faktor penting, terutama bagi bisnis yang sangat bergantung pada konektivitas berkecepatan tinggi untuk menyediakan layanan digital kepada pelanggan secara real time.
Kabel serat optik berperan sebagai tulang punggung komunikasi data, karena mampu menangani lalu lintas data dalam jumlah besar yang dihasilkan oleh layanan cloud dan aplikasi berbasis artificial intelligence. Melalui teknologi ini, data dapat ditransmisikan dengan latensi rendah dan kecepatan tinggi, bahkan untuk jarak yang sangat jauh.
Oleh karena itu, keberadaan jaringan serat optik yang terintegrasi di sekitar lokasi data center menjadi kunci untuk memastikan performa layanan tetap optimal, stabil, dan mampu memenuhi ekspektasi pengguna.
Dekat dengan Konsumen
Selain berada dekat dengan jaringan kabel serat optik, lokasi data center juga idealnya tidak terlalu jauh dari konsumen atau pengguna akhir. Kedekatan geografis ini berpengaruh langsung terhadap kecepatan pemrosesan dan pengiriman data, karena semakin dekat jarak antara data center dan pengguna, semakin rendah latensi yang dihasilkan.
Kecepatan akses tersebut memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman pengguna. Aplikasi dan layanan digital yang dapat diakses dengan cepat akan terasa lebih responsif, stabil, dan nyaman digunakan.
Sebaliknya, keterlambatan sekecil apa pun dapat berdampak signifikan. Berdasarkan riset Google, setiap penundaan waktu muat halaman selama satu detik dapat menurunkan tingkat kepuasan pengguna hingga 20%.
Oleh karena itu, menempatkan data center lebih dekat dengan pusat aktivitas konsumen menjadi strategi penting bagi bisnis yang ingin menjaga kualitas layanan dna kepuasan pengguna.
Kondisi Lingkungan
Pembangunan data center tidak bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan di sekitarnya, terutama potensi risiko bencana alam seperti banjir, longsor, gempa bumi, atau kebakaran.
Hal ini sangat penting karena bencana alam dapat mengganggu operasional data center, mulai dari pemadaman listrik mendadak hingga kerusakan fisik pada infrastruktur yang bisa memengaruhi performa puluhan hingga ratusan aplikasi dan layanan digital yang bergantung pada pusat data tersebut.
Oleh karena itu, dalam proses pemilihan lokasi, bisnis perlu memastikan bahwa data center dibangun di wilayah yang relatif aman dari risiko bencana alam.
Peraturan Daerah
Setiap wilayah memiliki peraturan dan regulasi lingkungan yang berbeda-beda, dan hal ini menjadi faktor penting dalam perencanaan pembangunan data center. Salah satu aspek kritis adalah konsumsi air, data center modern membutuhkan volume air yang sangat besar untuk sistem pendinginan dan operasional lainnya.
Sebagai contoh, Google melaporkan bahwa data center mereka pada tahun 2023 membutuhkan sekitar 5,2 miliar galon air.
Selain mematuhi regulasi lingkungan, bisnis juga harus memastikan bahwa seluruh izin pembangunan dan operasional data center telah diperoleh dengan sah. Hal ini mencakup izin dari otoritas pemerintah setempat maupun persetujuan dari komunitas lokal, karena dukungan masyarakat sekitar dapat memengaruhi kelancaran pembangunan dan operasional jangka panjang.
Temukan Lokasi Data Center Terbaik dengan LOKASI Intelligence
LOKASI Intelligence adalah platform analitik geospasial yang terintegrasi dnegan location intelligence dan data loaksi. Dengan LOKASI, bisnis dapat dengan mudah memetakan, menganalisis, dan memahami karakteristik suatu secara lebih detail. LOKASI juga membantu bisnis menemukan lokasi yang paling ideal dan optimal untuk pembangunan data center.
LOKASI memanfaatkan berbagai jenis data geospasial, mulai dari demografi, arus lalu lintas orang (people traffic), risiko bencana alam, kondisi sosial-ekonomi, hingga faktor-faktor lingkungan lainnya.
Dengan data yang terintegrasi dan analisis yang mendalam, bisnis dapat memastikan bahwa data center dibangun di lokasi yang strategis, aman, dan mendukung kinerja operasional jangka panjang.
Untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana LOKASI Intelligence dapat membantu bisnis Anda, silakan hubungi: email: [email protected] atau WA: 0877 7907 7750
FAQ
Data center biasanya diletakkan dimana?
Data center biasanya diletakkan di area yang mampu menyediakan pasokan listrik dalam skala besar, dekat dengan jaringan kabel serat optik untuk konektivitas tinggi, serta berada di area yang relatif aman dari risiko bencana alam.
Apa saja persyaratan untuk lokasi pusat data?
Persyaratan untuk lokasi pusat data meliputi ketersediaan daya besar, akses ke kabel serat optik, kedekatan dengan konsumen, lingkungan yang aman, serta dukungan peraturan daerah
Apa itu pusat data atau data center?
Tempat penyimpanan data adalah fasilitas fisik yang digunakan oleh bisnis maupun organisasi sebagai “rumah” bagi data dan aplikasi penting mereka. Di dalamnya, tersimpan berbagai sistem dan perangkat teknologi yang menjadi tulang punggung operasional digital.



